Bacabaca 18: Keajaiban di Pasar Senen oleh Misbach Yusa Biran

almarhum Misbach Yusa Biran
Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.
Awalnya, tak banyak kisah yang diceritakan oleh Misbach Yusa Biran. Almarhum Misbach diminta menulis tentang kehidupan di Pasar Senen berikut senimannya atas usul seorang kawan dari sebuah majalah. Ketika tulisannya naik ke redaksi, ternyata tulisan itu hanya jadi semacam pengisi ruang kosong di majalah itu saja. Tapi, tanpa disangka-sangka, kisah yang ditertawai Misbach itu, rupanya ditertawai juga oleh para pembaca. Karena hal itulah, Misbach mulai giat memotret kisah para seniman Senen yang menamai diri mereka “Anak Senen” dalam cerita bersambung dalam suatu majalah.
Beberapa pembaca yang suka menginginkan cerpen itu dibukukan. HB. Jassin pun begitu. Jassin menginginkan tulisan Misbach menjadi sebuah buku yang utuh, dengan cerita-cerita pendek yang dikumpulkan dalam satu wadah. Tapi, karena belum sempat juga, akhirnya Ajip Rosidi yang mulai berinisiatif untuk mengumpulkan remahan cerpen Misbach dan sekarang sudah dicetak ulang dalam bendera KPG – Kepustakaan Populer Gramedia.
Cover cetakan baru oleh KPG
Kumpulan cerpen berjudul “Keajaiban di Pasar Senen” ini memotret kehidupan sederhana dari para pemuda yang memberi label diri mereka sebagai seniman. Entah karena memang seniman atau hanya karena ikut-ikutan saja. Meski begitu, para seniman dan seniman gadungan ini memang sudah membentuk atmosfir yang berbeda di Senen. Tempat mangkal mereka yang utama ada di sudut-sudut terminal, di rumah makan Padang “Ismail Merapi”, di kedai kopi kecil “Tjau An”, di bioskop Grand, dan di tukang kue putu dekat pangkalan bensin.
Seniman-seniman ini seringkali berkumpul, mengobrol sampai pagi hanya untuk berbagi kopi kecil. Banyak juga dilema yang terjadi di antara seniman, mulai dari dilema percintaan sampai kurangnya uang untuk makan. Misbach Yusa Biran menggambarkan kisah mereka secara nyata, penuh humor dan juga romantisme. Sebagai contoh saja, kisah seorang seniman yang belum juga mendapat honor atas karyanya, minta ditraktir kawan yang juga seniman dan sama-sama seadanya, pada sebuah cerpen berjudul “13 Kopi Kecil dan Asap Rokok.” Jadilah, si seniman kurang uang ini seharian hanya minum kopi kecil dan memasukkan asap ke kerongkongan dan paru-paru hingga keesokan harinya, perutnya mulas tak karuan.
Ada juga kisah tentang seorang tukang cukur yang terlalu sering nongkrong bersama seniman, sampai membuat model rambut yang tidak-tidak. Dia berkata, “Aku sudah memilih, aku harus mencipta dalam bidang yang aku geluti, ya. Cukur rambut!” Dan dia berhasil membuat tokoh “aku” dalam cerpen berkata, “Andaikata jumpa pacar saya, tolonglah!” Kisah seniman satu ini ada dalam cerpen berjudul sama, “Andaikata jumpa pacar saya…tolonglah!”
Banyak juga kisah seniman-seniman lainnya. Seperti seorang Rebin yang bersikeras ingin menjual lukisan abstraknya yang tak bernilai seni sama sekali. Kisah tentang seniman yang membutuhkan uang sampai harus memeras kepala redaksinya dengan pintar sekali dan kisah-kisah lainnya.
Yang jelas, tujuh belas cerpen dalam buku ini telah membuat saya tertawa sekaligus menerbangkan imaji ke tahun 1950-an dimana Pasar Senen masih menjadi pusat seniman yang sangat nyaman, sebelum akhirnya Ali Sadikin memindahkan geliatnya ke Taman Ismail Marzuki.
Yang disayangkan, kalau saat ini kita pergi ke Senen, mungkin sudah tak kita dapati lagi sisa-sisa romantisme para seniman itu, karena mereka pun sudah tak terdengar lagi kabarnya. Sudah hilang, digerus waktu dan zaman. Jakarta sudah tak seromantis dulu. Maka, jika ada yang berminat menyesap sedikit saja aroma kopi kecil dan kue putu langganan para seniman Senen tahun 50-an, ada baiknya membaca pelan-pelan tujuh belas cerpen dalam buku ini. Niscaya, kerinduan akan Jakarta yang romantis, akan terobati (walau hanya sementara saja). [Ayu]

Judul: Keajaiban di Pasar Senen
Penulis: Misbach Yusa Biran
Penerbit: Pustaka Jaya
Tahun Terbit: 1971 (cetak ulang 2008)
ISBN: 9789799101297
Halaman: 177 
Harga: Rp 40.000 
Rating: 4/5 
Review: http://www.goodreads.com/book/show/5465395-keajaiban-di-pasar-senen



Related posts

10 responses to “Bacabaca 18: Keajaiban di Pasar Senen oleh Misbach Yusa Biran”

  1.  Avatar

    Silakan. Selamat membaca. 🙂

    Like

  2.  Avatar

    Ah saya penasaran isi bukunya. Selama ini saya cuma tahu kalau Pasar Senen itu stasiun, pasar dan terminal. Tak menelisik lebih jauh di dalamnya.Salam kenal Mbak Ayu, mohon izin memasukkan blog njenengan ke list di blog saya buat referensi blogwalking, maturnuwun 🙂

    Like

  3.  Avatar

    @JuLi d'JuLisilakan dibaca kak. ^_^

    Like

  4.  Avatar

    @Budhy Justicefarmmudah-mudahan juga bukunya masih ada. 🙂

    Like

  5.  Avatar

    jadi pensaran nih ^_^

    Like

  6.  Avatar

    saya suka kalau baca cerita bertemakan tempoe doeloe yuk, mudah2 nanti bisa beli bukunya 🙂

    Like

  7.  Avatar

    mantap mbak salam kenal

    Like

  8.  Avatar

    @Ocha Rhoshandha bukunya lebih keren lagi Mbak. 😀

    Like

  9.  Avatar

    keren ya uraiannya…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Search


Out Now!


Click banner to buy Not for IT Folks with discount!

Recent Posts


Tags


7 Divisi (7) Advertorial (4) Album Review (4) Antologi Ayu Welirang (4) Antologi HISTERY (2) Ayubacabaca (62) Ayu Welirang's Bibliography (9) Blogging Story (2) BS-ing everyday (7) Buku (63) Cabaca (3) Central Java (14) Cerita Detektif (7) Cerita Investigasi (4) Cerita Persahabatan (2) Cerpen (10) Cerpen dari Lagu (5) Coffee Shop (1) Drama (6) Editing Works (3) Februari Ecstasy (2) Fiksi Kriminal (3) Forest Park (2) Got Money Problem? (4) Halo Tifa (3) Heritage Sites (4) Hiking Journal (10) Hitchhike (4) Horror (3) Indonesia (37) Interview (2) Jakarta (10) John Steinbeck (3) Journal (18) Kopi (2) Kuliner (3) Kumcer (10) Latar Novel (2) Lifehacks (3) Living (4) Local Drinks (4) Local Foods and Snacks (5) Mata Pena (4) Media Archive (4) Menulis Adegan (2) Metropop (8) Mixtape (4) Mountain (18) Museum (2) Music Playlist (7) Music Review (4) My Published Works (13) NgomonginSeries (5) Nonton (6) Not for IT Folks (3) Novel Keroyokan (2) Novel Kriminal (4) Novel Thriller (3) On Bike (3) On Foot (4) On Writing (25) Pameran (2) Panca dan Erika (3) perjalanan dalam kota (3) Photo Journal (12) Potongan Novel Ayu Welirang (3) Publishing News (3) Review (72) Riset Tulisan (2) Rumah Kremasi (2) Santai (10) Sayembara-Novel-DKJ (3) Sci-fi (6) Sequel (4) Serial Detektif (2) Series Review (5) Short Stories (11) South Tangerang (1) Sumatera (3) talk about living my life (3) Tentang Menerbitkan Buku (7) Terjemahan (6) Things to do in Jakarta (4) Thriller (7) Tips (35) Tips Menulis (28) to live or not to live (6) Translation Works (6) Travel Guide (2) Traveling (3) Travel Stuff (2) Waterfalls (2) Wedding Preparation (5) Wedding Vendor Bandung (3) West Java (15) Worldbuilding Novel (2) Writing for Beginner (27) Writing Ideas (17) Writing Journal (38) Writing Prompt (9)

Newsletter


Create a website or blog at WordPress.com

%d bloggers like this: